Remember me
Tuesday, 11 September 2012 00:17

"Dok, gigi saya rusak dan ingin minta dicabut... tapi sekarang masih terasa sakit jadi saya mau minta obat dulu ya..."

Kalimat yang saya jadikan judul artikel kali ini adalah kurang lebih ungkapan yang keluar dari mulut banyak pasien yang saya temui dalam sekian tahun perjalanan saya berpraktik sebagai dokter gigi.  Dan saya yakin bahwa sejawat sekalian juga kurang lebih sering mendapati pasien yang memiliki opini yang juga seide dengan isi ungkapan pada judul di atas.  Lebih daripada itu, saya juga seringkali menemui dokter gigi yang "memasukkan" ide ke kepala pasiennya bahwa gigi yang sedang nyeri akut memang belum boleh dicabut (yah kalau dipikir-pikir kan memang pasien bisa mendapatkan ide tertentu mengenai apa yang harus dilakukan dengan gigi yang rusak sedikit banyak dari hasil "pendidikan" para dokter gigi kan?).

Yang ingin saya obrolkan pada artikel kali ini sesungguhnya adalah; apakah gigi yang rusak akibat infeksi itu tidak boleh dicabut jika si pasien sedang dalam keadaan menderita nyeri akut pada gigi tersebut?

 

Sebelum saya membahas hal tersebut, ijinkan saya memaparkan satu cerita rekaan yang mungkin bisa menjadi analogi.  Bayangkan teman sejawat sekalian mengalami nyeri hebat di bagian bawah perut sebelah kanan ... Rasa nyeri itu sedemikian hebatnya sampai-sampai sejawat sekalian tidak mampu untuk meluruskan badan lagi.  Anda harus di bawa ke UGD rumah sakit terdekat dalam keadaan membungkuk seperti udang karena nyeri yang amat sangat.  Begitu sampai di UGD anda diperiksa oleh dokter jaga di situ.  Sang dokter mencurigai anda menderita apendixitis akut dan diduga si usus buntu yang meradang itu sudah hampir mengalami perforasi yang bisa mengancam keselamatan anda.  Jadi untuk penanganan selanjutnya anda dirujuk ke dokter bedah yang bertugas jaga saat itu. Sang dokter bedah yang dipanggil untuk menangani anda datang dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan kembali, dan setelah itu dia berkata demikian kepada anda... "Pak/Bu, usus buntu anda mengalami infeksi yang berat dan sudah hampir perforasi... Untuk menuntaskan masalah ini kita perlu melakukan pengangkatan pada usus buntu yang terinfeksi tersebut... Tapi karena saat ini Bapak/Ibu sedang mengalami nyeri yang amat sangat, maka untuk sementara ini saya berikan obat dulu, nanti kalau nyerinya sudah reda baru usus buntunya kita ambil yaaa...."

 

Pikirkan sejenak situasi tersebut... dan bayangkan bagaimana perasaan anda jika si dokter bedah berkata demikian kepada anda... Ya, cerita tersebut hanyalah rekaan saya belaka, karena pada kenyataannya hampir semua dokter bedah akan menyarankan untuk segera melakukan operasi apendiktomi pada kasus seperti ilustrasi cerita saya tersebut.

Nah, sekarang bagaimana dengan cerita kita sebagai dokter gigi yang menghadapi pasien dengan gigi terinfeksi yang menyebabkan nyeri akut pada si pasien?  Saya pribadi belum pernah melakukan survei yang valid, namun kalau boleh saya membuat perkiraan; saya akan mengatakan bahwa sebagian besar ceritanya akan sama dan sebangun dengan ilustrasi cerita angan-angan saya tentang si dokter bedah yang meresepkan obat terlebih dahulu dan menunda melakukan tindakan untuk membuang sumber infeksi yang menjadi penyebab nyeri dan penyakit pada pasien.

Kalo kita bertanya; kenapa bisa begitu? Saya juga tidak memiliki jawaban pastinya ... tapi saya teringat masa-masa menjadi ko-ass di bagian pencabutan gigi dulu; memang ada dosen pengajar ahli bedah mulut yang mendidik mahasiswanya bahwa kalau gigi yang mau dicabut itu perkusinya positif, maka pencabutan pada gigi yang bersangkutan harus ditunda.  Jika ditanyakan alasannya mengapa demikian; biasanya jawabannya akan berkisar pada obat anastesi yang akan menjadi netral jika disuntikkan di lokasi infeksi, atau pencabutan yang dilakukan pada saat infeksi akut dapat menyebabkan penyebaran infeksi itu ke bagian tubuh yang lain ... Itu pengalaman pribadi saya, kemungkinan tidak mewakili keadaan puluhan fakultas kedokteran gigi yang lain yaaa ...

Pun ketika saat itu saya masih mahasiswa program profesi kedokteran gigi, saya merasa tidak "sreg" dengan alasan yang dikemukakan oleh dosen bedah mulut saya waktu itu.  Karena sepengetahuan saya waktu itu, jika alasan untuk tidak mencabut gigi adalah karena obat anastesi akan netral di lokasi infeksi; kita kan bisa melakukan anastesi di lokasi yang jauh dari lokasi infeksi toh? (yang saya maksudkan adalah teknik anastesi blok)  Kemudian mengenai alasan penyebaran infeksi; jikalau misalnya gigi yang menjadi sumber infeksi bisa kita cabut secara keseluruhan, maka secara logika produk infeksi seperti misalnya pus tentu akan lebih memilih mengalir ke tempat dengan resistensi yang lebih minimal, yakni keluar melalui soket, daripada susah-susah menyebar melalui spatium antar lapisan yang sempit itu ...

Setelah saya lulus menjadi dokter gigi, saya beruntung mendapatkan seorang mentor yang menjustifikasi rasa "tidak sreg" saya semasa kuliah tersebut dengan menunjukkan konsep yang benar dalam menangani pencabutan gigi yang sedang mengalami infeksi akut.  Apa yang diajarkan oleh mentor saya tersebut kurang lebih terangkum dalam ucapan Dr.Larry J.Peterson di dalam bukunya Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery berikut :

It is abundantly clear from many prospective studies that the most rapid resolution of an infection secondary to pulpal necrosis is obtained when the tooth is removed as early as possible.  Therefore acute infection is not a contraindication to extraction.  However, it may be difficult to extract such a tooth because the patient may not be able to open his or her mouth sufficiently wide, or it may be difficult to reach a state of adequate local anesthesia. If access and anesthesia considerations can be met, the tooth should be removed as early as possible.

Dari paragraf diatas, jika faktor sistemik pasien tidak menjadi suatu permasalahan, maka dua hal utama yang menjadi penyulit hanyalah masalah akses (jika pembengkakan yang terjadi sedemikian rupa sehingga pasien hanya dapat membuka mulut sedikit saja) dan masalah mendapatkan anastesi yang adekuat.

Dari pengalaman saya selama ini, sulitnya mendapatkan anastesi yang adekuat dapat "dipermudah" dengan terus berlatih dan mempelajari teknik anastesi blok dengan tekun.  Memang teknik anastesi blok, apalagi inferior alveolar nerve block yang adalah teknik anastesi dengan tingkat kegagalan tertinggi (hampir mencapai 60 % menurut Malamed), memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi untuk dikuasai jika dibandingkan dengan teknik anastesi infiltrasi.  Namun ini tidak berarti bahwa kita harus "menyerah" begitu saja bukan? Saran saya adalah teruslah berlatih, tuntutlah diri anda lebih banyak daripada anda menyalahkan faktor-faktor eksternal yang menjadi penyulit. Sebagian besar kasus infeksi gigi yang saya tangani pada akhirnya bisa di anastesi dengan memuaskan jika kita mau jujur mengevaluasi dan memperbaiki teknik anastesi blok yang kita lakukan.

Kemudian jika masalah yang ditemui adalah trismus yang memang benar-benar parah, kita memang tidak ada pilihan lagi selain menunda pencabutan dan meresepkan obat untuk meredakan peradangan.  Namun dari pengalaman saya, kasus yang benar-benar membutuhkan penundaan prosentasenya hanya sedikit dibandingkan kasus yang bisa segera ditangani.

Tentu saja, artikel ini tidak saya maksudkan untuk mengajak sejawat sekalian bekerja "membabi buta" mencabut gigi-gigi infeksi tanpa pandang bulu.  Kearifan dan ketelitian mengevaluasi setiap kasus tetaplah dibutuhkan.  Ada kasus-kasus yang memang butuh untuk ditunda penanganannya dikarenakan pengaruh-pengaruh sistemik maupun lokal pada pasien.  Namun jika memang waktunya untuk bertindak, marilah kita bertindak dengan determinasi bahwa apa yang kita lakukan akan bisa membuat hidup pasien-pasien kita lebih berkualitas.  Penundaan-penundaan yang tidak perlu hanya akan membuang-buang waktu, energi, dan biaya baik dari pihak pasien maupun dokter gigi bukan?

Salam sejawat ...... (^_^)

Read 2563 times Last modified on Friday, 17 July 2015 18:46

Kabar GGC

Dapatkan info terkini dalam kedokteran gigi, termasuk jadwal seminar

captcha 

Group Kedokteran Gigi

View all groups

Hubungi GigiGeligi

0878.7118.9191

Customer.Care@GigiGeligi.Com
Bumi Serpong Damai, Tangerang
 
   This seal is issued to gigigeligi.com by StopTheHacker Inc.
 
Our Partner
Dentsoftware, India | +91 77 367 67 367